Kurikulum Pendidikan Kadaluarsa

Einstein mengatakan bahwa “Siapa saja Jenius”. Tapi kalau anda menilai seekor ikan berdasarkan kemampuannya memanjat pohon, maka seumur hidup ikan itu akan berfikir bahwa ia adalah ikan yang bodoh. Jika siswa diumpamakan bak seekor ikan, maka metode penilaian pembelajaran saat ini bisa dikatakan memaksakan para ikan untuk bisa memanjat pohon, atau berlari di daratan. Siswa-siswa seolah ditambat kreatifitasnya, dan dirubah menjadi robot, dibentuk harus sesuai dengan keinginan sekolah. Mereka dipaksa bersaing, melawan arus kelas untuk menjadi yang terbaik. Mereka tidak pernah bisa menemukan bakat mereka, dan ketika mereka gagal memenuhi ekspektasi sekolah, mereka akan menganggap diri mereka bodoh dan tidak berguna.

Konsep sekolah saat ini terbilang kuno dan kadaluarsa. Mengapa kami mengatakan demikian? Simak penjelasan kami berikut ini !

Pada gambar di atas, yang di sisi kiri adalah bentuk telepon masa kini, dan yang di sisi kanan adalah bentuk telepon 150 tahun yang lalu. Anda lihat dengan jelas perbedaannya kan !

Selanjunya, pada gambar di atas, yang di sisi kiri adalah model mobil terkini, dan yang di sisi kanan adalah model mobil 150 tahun silam. Jelas sekali perbedaannya kan !

Sekarang coba perhatikan gambar diatas ! Yang di sisi kiri adalah suasana ruang kelas masa kini, dan yang di sisi kanan adalah suasana ruang kelas 150 tahun sebelumnya. Masih sama kan !

Hal ini mengartikan bahwa setelah lebih dari 100 tahun berlalu, tidak ada metode yang berubah dalam menyiapkan generasi masa depan. Sampai saat ini sekolah mencetak siswa agar bisa bekerja di pabrik atau bekerja sebagai karyawan. Cara berpikir siswa cenderung di dikte. Mereka dipaksa untuk bersaing mendapatkan nilai “A”, yakni sebuah huruf yang menunjukan kualitas baik suatu produk. Ini adalah metode pendidikan kadaluarsa.

Dunia kini telah berkembang, dan hari ini kita butuh manusia-manusia yang mampu berpikir kreatif, inovatif, kritis dan mandiri dengan kemampuan sosial yang tinggi. Para ilmuan mengatakan, bahwa “Pemikiran setiap manusia itu unik”. Jika anda punya lebih dari 1 anak dirumah, anda akan melihat betapa berbedanya cara berpikir dan karakter mereka. Oleh karenanya, sangatlah tidak tepat jika pihak sekolah selalu memperlakukan semua siswa sama dalam mendidik. Akan terjadi kekacauan (Malpraktek) bila seorang dokter memberikan satu jenis obat (sama) untuk seluruh pasien yang punya penyakit berbeda-beda. Maka hal itu pula yang terjadi dalam dunia pendidikan saat ini (Malpraktek Pendidikan)

Dalam satu kelas, tiap tiap anak memiliki kemampuan (bakat) yang berbeda, kebutuhan dan cita-cita mereka juga berbeda, dan seharusnya mereka mendapatkan metode pengajaran yang berbeda pula.

Guru Pekerjaan Terpenting

Guru seharusnya menjadi pekerjaan terpenting dimuka bumi. Namun fakta saat ini (khususnya di Indonesia), mereka digaji sangat rendah jika dibandingkan profesi dokter atau sopir pesawat (Pilot). Oleh karenanya, bukan hal yang aneh jika banyak siswa yang berbuat curang, tidak jujur, akibat didikan guru yang tidak optimal. Para guru tidak fokus dengan tugasnya dan sering mencari kesempatan-kesempatan yang berorientasi pada uang (les tambahan, untuk uang tambahan). Gaji guru harusnya sama besarnya dengan gaji seorang dokter, karena seseorang bisa menjadi dokter, berkat sentuhan hebat dari seorang guru yang menyentuh hati, dan membuat seorang anak menjadi merasa benar-benar hidup serta menemukan bakatnya.

Faktanya, guru sering dikondisikan sebagai pahlawan yang disalahkan, padahal masalahnya bukan pada mereka. Para guru bekerja dalam sistem pendidikan (kurikulum) yang membuat mereka sendiri tidak kreatif dan tidak memiliki banyak pilihan dan hak. Kurikulum terobsesi dengan ujian terstandar berkonsep pilihan ganda atau essay yang belum tentu menjamin kesuksesan seseorang, dan ironisnya itu dijadikan KPI (Key Performance Indicator) baik untuk siswa, guru bahkan institusi sekolahnya.

Metode Sekolah di Finlandia

Jadi, jika kita bisa memodifikasi mobil, telpon atau bahkan metode rapat dengan Google Hangouts, maka seharusnya hal itu juga bisa kita lakukan terhadap dunia pendidikan. Merubahnya dan meningkatkannya demi kemajuan generasi penerus. Tidak ada lagi penyamarataan penilaian pendidikan, dan yang terpenting adalah menyentuh hati setiap siswa dikelas untuk membuat mereka percaya diri melakukan apa yang mereka suka, yang akhirnya memunculkan bakat mereka. Matematika dan Biologi itu penting, namun Seni juga tidak kalah penting dalam kehidupan kita. Sekolah harus mampu memberikan ruang pengembangan bakat untuk para siswanya dengan tepat.

Tabel sistem pendidikan terbaik

Apa yang kami utarakan sejatinya bukan mimpi, karena negara seperti Finlandia telah melakukan pendekatan pendidikan yang telah kami bicarakan. Waktu sekolah mereka dipersingkat, gaji guru menjadi yang tertinggi dari semua pekerjaan yang ada, tidak pernah ada PR untuk siswa dan para siswa fokus untuk saling berkolaborasi sesama, dibandingkan harus berkompetisi. Dengan metode tersebut Finlandia memiliki sistem pendidikan yang lebih maju dibandingkan dengan negara-negara lain. Siswa mungkin memang hanya 20% dari masyarakat penduduk disuatu negara, namun mereka adalah 100% yang akan menentukan masa depan bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *